Novel yang diuntai kata-katanya dari perenungan yang dalam tentang fenomena kehidupan guyub budaya Lamaholot di Pulau Adonara telah mengurai kebuntuan, mengingatkan kelupaan, menyadarkan kelalaian, dan membawa ciri dan cara pandang yang lebih holistik tentang cinta, mahar adat, perjuangan, dan prinsip hidup. Seluruh bias cara pandang ini ditarik ke sebuah garis imaji dan menyatu pada sebuah titik untuk dan atas nama sebuah benda sakral, Bala ‘gading’. Mengapa gading? Dari Jawaban pragmatis yang berawal dari sistem barter oleh pedagang Portugis hingga analisis filosofis, tidak pernah akan mengubah wujudnya sebagai mahar gadis Lamaholot.
Benda sakral ini identik dengan eksistensi perempuan Lamaholot: kedudukan, peran, martabat dan kehormatannya. Di balik martabat dan kehormatan perempuan Lamaholot, terdapat kesungguhan, ketangguhan dan tanggung jawab kaum laki-lakinya. Untaian kata-kata penulis dipahami sebagai kesadarannya tentang sedemikian tingginya martabat perempuan, gadis, atau pun ibu dalam budaya Lamaholot. Guyub budaya Lamaholot di Pulau Adonara tak pernah tergerus keyakinannya tentang sebegitu mulianya martabat kaum perempuannya meskipun dalam cinta sering mengalah atau dikalahkan oleh adatnya sendiri.






Reviews
There are no reviews yet.